Konsep dan Karakteristik Sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Indonesia

Pendahuluan

Abad XXI, merupakan suatu era yang menurut Richard Crawford (Sidi, 2001) disebut sebagai Era of Human Capital, yaitu era, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi telekomunikasi berkembang sangat pesat dan Human Capital merupakan pusat perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri (industrial society) dan kemudian menuju masyarakat ilmu (knowledge society). Perkembangannya yang pesat tersebut menyebabkan semakin derasnya arus informasi dan terbukanya pasar internasional yang berdampak pada persaingan bebas dengan begitu ketatnya dalam segala aspek kehidupan manusia.

Dalam menghadapi era globalisasi, bangsa yang memiliki kemampuan bersaing akan memperoleh keuntungan dan tidak akan tersingkir dari arena persaingan. Bangsa yang tidak memiliki kemampuan bersaing akan menuai kerugian dan mengalami ketertinggalan. Kemampuan bersaing sangat ditentukan oleh faktor daya saing. Diantara berbagai faktor daya saing, tiga yang paling utama adalah manajemen, teknologi, dan sumber daya manusia. Manajemen yang tangguh akan mampu meningkatkan efisiensi biaya dan efektivitas hasil. Keunggulan teknologi hanya akan dapat dicapai melalui kepemilikan sumber daya manusia yang kuat dalam penguasaan ilmu-ilmu yang mendasari teknologi, yaitu Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (Fisika, Kimia, Biologi), dan bahasa global yaitu Bahasa Inggris. Sumber daya manusia yang memiliki keunggulan dalam Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam beserta terapannya yakni teknologi, dan Bahasa Inggris akan mampu bersaing secara sehat dalam percaturan global yang telah, sedang dan akan berlangsung secara ketat.

Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat global, tidak bisa tidak ikut memasuki abad yang penuh dengan persaingan bebas tersebut. Bahkan negara-negara yang berada di kawasan Asia telah mengambil kesepakatan bersama, bahwa sejak tahun 2003 yang lalu, Asia telah menerapkan pasar bebas yang disebut dengan Asian Free Trade Area (AFTA) serta APEC (Asean Pacific Economic Cooperation) pada tahun 2010. Dengan era pasar bebas tersebut bangsa Indonesia dituntut untuk mampu mengikuti persaingan bebas, termasuk dalam bidang pendidikan. Konsekuensi logisnya adalah, keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan memadai memiliki peranan yang sangat penting dan strategis.

Namun di sisi lain, rendahnya kualitas SDM di Indonesia dapat dilihat dari Survei Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), yang meneliti kemampuan anak-anak usia 13 tahun dalam bidang Matematika dan Sains. Pada survei TIMSS 2007 yang diikuti oleh sekitar 425.000 siswa dari 59 negara peserta dan 8 negara yang menjadi pembanding (benchmarking participants) pada survei kelas IV dan kelas VIII, Indonesia menempati urutan 35 (nilai rata-rata 427) untuk sains dan 36 (nilai rata-rata 397) untuk matematika. Hasil yang kurang lebih sama terlihat pada studi PISA (Programme for International Student Assessment) dengan objek survei pelajar usia 15 tahun. Tiga aspek yang diteliti adalah kemampuan membaca, matematika, dan sains. Pada survei tahun 2006, dari 57 negara yang disurvei dalam kemampuan matematika, Indonesia menempati urutan 52 dengan skor rata-rata 391. Untuk sains, Indonesia berada di peringkat 54 dari 57 negara dengan skor rata-rata 393. Senada dengan potret buram itu, kondisi serupa juga terjadi pada peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang setiap tahun dirilis UNDP (United Nation Development Programme). Hasil survei pada tahun 2008, IPM Indonesia berada pada peringkat 109 dari 179 negara yang dikalkulasikan serta termasuk dalam kategori Menengah (Peringkat 76 s.d 153). Peringkat Indonesia berada jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya, seperti Brunei Darussalam (27), Singapura (28), dan Malaysia (63) yang berada pada kategori IPM tinggi (Peringkat 1 s.d 75). Sedangkan pada kategori menengah Indonesia berada di bawah Thailand (81) dan Philipina (102).

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Undang Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran. Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sejalan dengan usaha pemerintah mempersiapkan SDM yang unggul, melalui Undang-Undang Sisdiknas Pasal 50 Ayat 3 menyebutkan bahwa Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Pentingnya pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris setidaknya didorong oleh dua hal. Pertama, Indonesia harus mampu mengembangkan sumber daya manusia tangguh dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Upaya tersebut perlu dilakukan karena sumber daya manusia merupakan faktor daya saing yang paling menentukan terutama sumber daya manusia yang menguasai teknologi dan ilmu-ilmu yang mendasarinya yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sementara itu, teknologi dan ilmu-ilmu yang mendasarinya berkembang dengan pesat sehingga memerlukan sumber daya manusia yang terampil (cepat, cekat, dan tepat). Kedua, Indonesia harus serius mengembangkan sumber daya manusia yang diharapkan mampu berkomunikasi secara global dengan Bahasa Inggris karena bahasa ini merupakan bahasa internasional. Sementara itu sebagian besar disiplin ilmu seperti Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan Teknologi (komunikasi, manufaktur, konstruksi, transportasi, bio dan energi) disebarluaskan dalam Bahasa Inggris. Mengingat sebagian besar bacaan ilmu umumnya Berbahasa Inggris, maka untuk memperoleh ilmu secara mudah dan cepat dari bangsa-bangsa yang lebih maju diperlukan generasi muda Indonesia yang tangguh dalam Bahasa Inggris. Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang memadai, generasi muda akan mudah mengakses/memperoleh informasi/ilmu yang baru dari negara-negara maju. Selain untuk mengakses ilmu, Bahasa Inggris juga merupakan bahasa komunikasi antar bangsa.

Sejak tahun 2004, Direktorat PSMP telah merintis Sekolah Standar Nasional (SSN), yang sampai saat ini berjumlah 1314 sekolah di seluruh Indonesia. Sejak itu pula, Direktorat PSMP juga telah merintis Sekolah Koalisi setiap propinsi atau sekolah, yang sampai saat ini berjumlah 34 sekolah di seluruh Indonesia (Hadijah, 2009).

Implementasi terbatas program pembelajaran matematika dan IPA dengan Berbahasa Inggris ini dimulai pada tahun ajaran 2004/2005, yang melibatkan Sekolah Koalisi Nasional. Sekolah Koalisi Nasional dipilih karena sekolah ini diprospektifkan menjadi sekolah yang memilki jaringan regional/internasional. Sekolah ini pada umumnya juga memiliki keunggulan-keunggulan dibanding dengan sekolah-sekolah lainnya dalam hal input, proses, dan output.

Keunggulan dalam input ditunjukkan oleh kurikulum, tenaga kependidikan yang dimiliki khususnya guru Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang memiliki kemampuan Berbahasa Inggris, fasilitas pendukung proses belajar mengajar, kesiapan siswa, kesiapan orang tua siswa, dana, dan dukungan Komite Sekolah. Keunggulan dalam proses ditunjukkan oleh karakteristik proses belajar mengajar yang telah dibuktikan efektif oleh sekolah. Keunggulan output ditunjukkan oleh prestasi akademik dan nonakademik yang melebihi rata-rata prestasi SMP umumnya. Sedangkan keunggulan kesanggupan ditunjukkan oleh komitmen kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya, yang diindikasikan oleh keantusiasan, semangat, tanggung jawab, dedikasi, dan dukungan moral serta intelektual yang selama ini telah diberikan kepala sekolah.

Hingga tahun 2009, Direktorat PSMP Depdiknas telah membina 302 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan 1.858 Sekolah Standar Nasional (SSN) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. SMP lain di luar SMP RSBI yangdibina oleh Direktorat pembinaan SMP, terdapat 50 sekolah yang secara mandiri berkategori SBI. Sebagai Sekolah Bertaraf Internasional tentu siswanya bukan hanya berasal dari Warga Negara Indonesia saja tetapi boleh juga berasal dari Warga Negara Asing.

Untuk melaksanakan pembelajaran pada SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, diperlukan perangkat yang sesuai. Pembelajaran matematika yang menggunakan pengantar Bahasa Inggris masih relatif baru di Indonesia sehingga perangkat pembelajaran yang mendukung pelaksanaannya di kelas masih sangat terbatas. Oleh  karena itu, pengembangan perangkat pembelajaran matematika pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang sejalan dengan salah satu program didalam Rencana Kerja dan Anggaran tahun 2009 Direktorat PSMP Depdiknas perlu untuk segera dilaksanakan.

Konsep RSBI di Indonesia

Pemerintah menyadari pentingnya pendidikan yang bermutu bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Pendidikan memberikan sumbangan nyata terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan tenaga kerja berpengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keahlian dan keterampilan. Salah satu upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 50 Ayat 3, yakni pemerintah dan atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah yang bertaraf internasional.

Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga lulusannya memiliki mutu/kualitas yang tidak hanya bertaraf nasional tetapi juga bertaraf internasional. Yang termasuk anggota OECD ialah: Australia, Austria, Belgia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Irlandia, Italia, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Belanda, New Zealand, Norwegia, Polandia, Portugal, Republik Slovakia, Spanyol, Swedia, Switzerland, Turki, Inggris, Amerika dan negara maju lainnya seperti Chili, Estonia, Israel, Rusia, Slovenia, Singapore, dan Hongkong.

Icon SBI di mata masyarakat Indonesia tidak dapat lepas dari bilingual sebagai medium of instruction, multimedia dalam pembelajaran di kelas, berstandar internasional, ataupun sebagai sekolah prestisius dengan jalinan kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara anggota OECD maupun lembaga-lembaga tes/sertifikasi internasional, seperti: Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, dan lain-lain.

Kualitas pendidikan nasional mengacu kepada delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan kualitas internasional diukur dengan kriteria-kriteria internasional yang dikaji secara seksama melalui persandingan SNP dengan standar/kriteria mutu internasional dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya saing di forum Internasional, pertukaran informasi, studi banding, dsb. Dengan pengertian ini, SBI dapat diformulasikan sebagai berikut: SBI= SNP+X.

SNP adalah Standar Nasional Pendidikan, yang meliputi standar kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, dana, pengelolaan, dan penilaian. Sedangkan X maksudnya dapat berupa penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, dan pendalaman terhadap standar pendidikan baik dalam negeri maupun dengan standar anggota OECD di atas atau dengan pusat-pusat pelatihan, industri, lembaga-lembaga tes/sertifikasi internasional, seperti Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, pusat-pusat studi dan organisasi-organisasi multilateral seperti UNESCO, UNICEF, SEAMEO, dan sebagainya.

SNP adalah Standar Nasional Pendidikan yang terdiri atas delapan komponen utama sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005, sedangkan keinternasionalan dicirikan dengan kompetensi internasional (lulusannya), kurikulum bertaraf internasional, pembelajaran bilingual, sarana sesuai dengan kebutuhan kurikulum internasional, pembiayaan, penilaian menggunakan standar internasional, pengelolaan, dan memenuhi standar ISO 9001.

Ada dua cara yang dapat dilakukan sekolah/madrasah untuk memenuhi karakteristik (konsep) Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), yaitu sekolah yang telah melaksanakan dan memenuhi delapan unsur SNP sebagai indikator kinerja minimal ditambah dengan (X) sebagai indikator kinerja kunci tambahan. Dua cara itu adalah: (1) adaptasi, yaitu penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah ada dalam SNP dengan mengacu (setara/sama) dengan standar pendidikan salah satu anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional; dan (2) adopsi, yaitu penambahan atau pengayaan/pendalaman/penguatan/perluasan dari unsur-unsur tertentu yang belum ada diantara delapan unsur SNP dengan tetap mengacu pada standar pendidikan salah satu anggota OECD/negara maju lainnya.

Karakteristik Sekolah RSBI

Sekolah/Madrasah Bertaraf internasional memiliki karakteristik keunggulan yang ditunjukkan dengan pengakuan internasional terhadap proses dan hasil atau keluaran pendidikan yang berkualitas dan teruji dalam berbagai aspek. Karakteristik esensial dalam indikator kunci minimal (SNP) dan indikator kunci tambahan (X) sebagai jaminan mutu pendidikan bertaraf internasional dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Karakteristik Esensial SMP-SBI sebagai Penjaminan Mutu Pendidikan Bertaraf Internasional

No

Obyek Penjaminan Mutu

(unsur Pendidikan dalam SNP)

Indikator Kinerja Kunci Minimal

(dalam SNP)

Indikator Kinerja Kunci Tambahan (sebagai X-nya)

I

Akreditasi

Berakreditasi A dari BAN-Sekolah dan Madrasah

Berakreditasi tambahan dari badan akreditasi sekolah pada salah satu lembaga akreditasi pada salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan

II

Kurikulum (Standar Isi) dan Standar Kompetensi lulusan

Menerapkan KTSP

Sekolah telah menerapkan sistem administrasi akademik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dimana setiap siswa dapat mengakses transkrip nilainya masing-masing.

Memenuhi Standar Isi

Muatan pelajaran (isi) dalam kurikulum telah setara atau lebih tinggi dari muatan pelajaran yang sama pada sekolah unggul dari salah satu negara diantara 30 negara anggota OECD dan/atau dari negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.

Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan

Menerapkan standar kelulusan dari sekolah yang lebih tinggi dari Standar Kompetensi Lulusan.

III

Proses Pembelajaran

Memenuhi Standar Proses

Proses pembelajaran pada semua mata pelajaran menjadi teladan bagi sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa enterpreneural, jiwa patriot, dan jiwa innovator. Proses pembelajaran telah diperkaya dengan model-model proses pembelajaran sekolah unggul dari salah satu negara diantara 30 negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya. Penerapan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran. Pembelajaran pada mata pelajaran IPA, Matematika, dan lainnya dengan Bahasa Inggris, kecuali mata pelajaran bahasa Indonesia.

IV

Penilaian

Memenuhi Standar Penilaian

Sistem/model penilaian telah diperkaya dengan sistem/model penilaian dari sekolah unggul di salah satu negara diantara 30 negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnnya.

V

Pendidik

Memenuhi Standar Pendidik

Guru sains, matematika, dan teknologi mampu mengajar dengan Bahasa Inggris.Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK.

Minimal 20% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A.

VI

Tenaga Kependidikan

Memenuhi Standar Tenaga Kependidikan

Kepala sekolah berpendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A.Kepala sekolah telah menempuh pelatihan kepala sekolah yang diakui oleh Pemerintah.

Kepala sekolah mampu Berbahasa Inggris secara aktif.

Kepala sekolah memiliki visi internasional, mampu membangun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan enterprenual yang kuat.

No

Obyek Penjaminan Mutu

(unsur Pendidikan dalam SNP)

Indikator Kinerja Kunci Minimal

(dalam SNP)

Indikator Kinerja Kunci Tambahan (sebagai X-nya)

VII

Sarana Prasarana

Memenuhi Standar Sarana Prasarana

Setiap ruang kelas dilengkapi sarana pembelajaran berbasis TIK.Sarana perpustakaan TELAH dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia.

Dilengkapi dengan ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik, dan lain-lain.

VIII

Pengelolaan

Memenuhi Standar Pengelolaan

Sekolah meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya (2001, dst) dan ISO 14000. Merupakan sekolah multi kultural. Sekolah telah menjalin hubungan “sister school” dengan sekolah bertaraf/berstandar internasional diluar negeri. Sekolah terbebas dari rokok, narkoba, kekerasan, kriminal, pelecehan seksual, dan lain-lain. Sekolah menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam semua aspek pengelolaan sekolah.

IX

Pembiayaan

Memenuhi Standar Pembiayaan

Menerapkan model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target indikator kunci tambahan.


Output (produk)/lulusan SBI adalah memiliki kemampuan-kemampuan bertaraf nasional plus internasional sekaligus, yang ditunjukkan oleh penguasaan SNP Indonesia dan penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global.

References:

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Penelitian dan pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

Mullis, I. V. S., Martin, M. O., & Foy, P. 2008. TIMSS 2007 International Mathematics Report: findings from IEA’s trends in international Mathematics and Science Study at the Fourth and Eighth Grades. United States: TIMSS & PIRLS International Study Center.

Sidi, I. D. 2001. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Paramadina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s