Memahami Literasi Matematika (A Lesson from PISA)

Mengawali tulisan ini, saya ingin memaparkan sedikit tentang PISA. Kata PISA tentu sudah sering kita dengar. Ketika kita ditanya apa itu PISA? Sudah tentu banyak diantara kita yang akan berpikir tentang menara PISA di italia seperti gambar disamping. Namun, yang dimaksud PISA disini bukanlah menara PISA Italia, tapi PISA yang merupakan singkatan dari Programme for International Student Assessment. PISA merupakan sebuah proyek dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dirancang untuk mengevaluasi hasil pendidikan dalam hal kemampuan siswa yang berumur 15 tahun di bidang matematika, membaca, dan sains.

Struktur matematika dalam program PISA dapat digambarkan dalam suatu bentuk matematika: ML + 3 Cs. ML adalah singkatan dari Mathematical Literacy (literasi matematika), dan 3 Cs singkatan dari Content, Contexts, and Competencies. Misalkan sebuah masalah muncul dalam sebuah situasi di dunia nyata, situasi ini menyediakan konteks untuk menerapkan matematika. Untuk menggunakan matematika dalam memecahkan masalah, seorang siswa harus memiliki tingkat kemampuan yang meliputi konten matematika yang relevan dengan masalah tersebut. Dan dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut, proses untuk menghasilkan solusi harus dibangun dan diikuti. Agar penggunaan proses ini berhasil, seorang siswa membutuhkan kompetensi tertentu, yang dibahas dalam Competency cluster di framework PISA. Hubungan bentuk matematika: ML + 3 Cs dari PISA tersebut digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1: Komponen matematika PISA

Source: OECD (2009) Learning Mathematics for Life: A View Perpective from PISA, OECD Publications, Paris.

Tulisan berikut ini hanya membahas tentang literasi matematika, yang merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan siswa untuk dapat berhasil dalam memecahkan soal-soal PISA.

Literasi matematika dalam PISA adalah fokus kepada kemampuan siswa dalam menganalisa, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif, merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi. Penilaian yang digunakan adalah fokus kepada masalah-masalah dalam kehidupan nyata, diluar dari situasi atau masalah yang sering di bahas di kelas. Di dalam kehidupan nyata, kita sering menghadapi stuasi ketika berbelanja, melakukan perjalanan, memasak, masalah keuangan, menganalisis situasi politik, dan hal-hal lain dimana penggunaan quatitative or spatial reasoning atau kemampuan matematika lainnya merupakan alat bantu yang menjelaskan atau memecahkan suatu masalah.

Penerapan matematika adalah berdasarkan pada pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dan dipraktekkan dengan berbagai macam soal yang biasanya ada pada buku-buku sekolah. Namun, masalah konteks dalam PISA menuntut untuk menggunakan kemampuan-kemampuan yang relevan dalam konteks yang tidak terlalu terstruktur, dimana petunjuk tidak begitu jelas bagi siswa. Siswa harus mampu menentukan pengetahuan apa yang relevan, proses apa saja yang harus dilalui untuk dapat mengantarkannya kepada solusi yang mungkin dari permasalahn tersebut, dan bagaimana cara menggambarkan kebenaran dan kegunaan dari jawaban atau solusi yang diperoleh.

Penduduk di setiap negara semakin sering dihadapkan dengan banyak persoalan yang melibatkan penalaran kuantitatif, spasial, peluang, atau relasional. Media penuh dengan informasi yang menggunakan atau menyalahgunakan tabel, grafik, diagram, dan representasi visual lainnya untuk menjelaskan atau menggambarkan hal-hal yang berhubungan misalnya dengan cuaca, ekonomi, kedokteran, olahraga, dan lingkungan. Bahkan jika kita melihat lebih dekat, kehidupan sehari-hari setiap penduduk merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan seperti membaca dan memahami jadwal keberangkatan bus atau kereta api, memahami tagihan atau rekening listrik atau air, mengajukan permohonan pinjaman di bank, penghematan biaya, dan membuat keputusan bisnis yang tepat, apakah dengan cara barter (tukar menukar barang) atau menentukan harga yang tepat.

Oleh karena itu, literasi matematika adalah tentang kegunaan atau fungsi matematika yang telah dipelajari oleh seorang siswa di sekolah. Kegunaan tersebut merupakan kemampuan yang sangat penting bagi seseorang untuk bertahan hidup di era informasi dan pengetahuan saat ini.

Definisi dari literasi matematika menurut PISA adalah:

Mathematical literacy is an individual’s capacity to identify, and understand, the role that mathematics plays in the world, to make well-founded judgments and to use and engage with mathematics in ways that meet the needs of that individual’s life as a constructive, concerned, and reflective citizen. (OECD 2003)

Dalam menggunakan istilah “literasi”, fokus PISA adalah pada jumlah pengetahuan matematika anak berumur 15 tahun yang mampu di gunakan dalam berbagai macam konteks dan situasi. Masalah yang diberikan biasanya membutuhkan pendekatan-pendekatan reflektif dan kreativitas. Oleh karena itu, PISA menekankan pada kemampuan dan pengetahuan matematika yang diluar dari matematika yang telah didefinisikan dan terbatas pada kurikulum sekolah.

Literasi matematika tidak dapat direduksi kedalam bentuk – tetapi mempersyaratkan – pengetahuan tentang istilah-istilah matematika, bentuk dan langkah-langkah serta berbagai macam kemampuan dalam menggunakan operasi dan metode tertentu. PISA menekankan bahwa literasi tidak terbatas pada merujuk hal yang mendasar, tingkat pengunaan yang minimum. Sebaliknya, PISA menganggap literasi sebagai spektrum dengan banyak bentuk dan berkelanjutan (continuous and multi-faceted spectrum)  yang digunakan mulai dari aspek penggunaan yang mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi.

Kemampuan yang penting menurut pendapat kita tentang literasi matematika adalah kemampuan untuk mengajukan, merumuskan, dan menyelesaikan didalam atau diluar masalah matematika dalam berbagai macam bidang dan konteks. Kemampuan tersebut yang mencakup semua hal, mulai dari matematika murni sampai pada hal dimana tidak ada struktur matematika, sudah diberikan sejak awal tetapi terlebih dahulu diperkenalkan dengan baik melalui problem poser, problem solver atau keduanya.

Sikap dan emosi (seperti percaya diri, keingintahuan, perasaan akan ketertarikan dan relevansi, hasrat untuk melakukan atau memahami sesuatu) adalah bukan merupakan komponen dari literasi matematika. Namun demikian, hal tersebut merupakan prasyarat yang penting untuk literasi matematika. Pada prinsipnya, bisa saja seseorang memunculkan kemampuan literasi matematika tanpa menampilkan sikap dan emosi pada saat yang sama.

Pada prakteknya, sangat jarang terjadi dimana kemampuan literasi diterapkan dan digunakan oleh seseorang yang tidak mempunyai tingkat kepercayaan diri, keingintahuan, perasaan akan ketertarikan dan relevansi, dan hasrat untuk melakukan atau memahami sesuatu yang memuat komponen matematika yang sama.

Konsep literasi matematika pada dasarnya bukanlah hal yang baru. Istilah sama telah digunakan untuk menggambarkan literasi matematika yang bervariasi mulai dari literasi numerasi sampai pada literasi kuantitatif. Menurut sejarah, Josiah Quincy berhasil menghubungkan tanggung jawab masyarakat dan pembuat kebijakan dengan menggunakan pengetahuan statistik yang dimilikinya pada tahun 1816 dan menyebutnya dengan “political arithmetic”. Sejak penemuan tersebut, banyak perhatian tercurahkan kepada hubungan antara kegunaan matematika dan tanggung jawab masyarakat. Definisi tentang apa sebenarnya yang mendasari literasi matematika masih sangat bervariasi mulai dari definisi yang paling sempit “the knowledge and skills required to apply arithmetic operations, either alone or sequentially, using numbers embedded in printed material” sampai pada “the ability to cope confidently with the mathematical needs of adult life” (Cohen, 2001).

Literasi matematika adalah berhubungan dengan masalah “real”. Hal ini berarti bahwa masalah tersebut biasanya muncul pada sebuah situasi. Sebagai kesimpulan, siswa harus mampu menyelesaikan masalah nyata (real world problem) yang mensyaratkan mereka untuk menggunakan kemampuan dan kompetensi yang telah mereka peroleh melalui pengalaman di sekolah dan sehari-hari. Proses yang mendasar dari hal ini adalah “matematisasi”. Proses ini membawa siswa berubah dari masalah konteks dari dunia nyata ke dunia matematika yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut. Matematisasi membawa siswa dalam menginterpretasi dan mengevaluasi masalah serta merefleksi solusinya untuk meyakinkan bahwa solusi yang telah ditemukan sesuai dengan situasi real yang menimbulkan masalah tersebut.

Dalam hal ini, literasi matematika melangkah jauh dari kurikulum matematika. Namun demikian, penilaian literasi matematika tidak dapat dipisahkan dari kurikulum dan pengajaran yang ada karena pengetahuan dan kemampuan siswa sangat bergantung pada apa dan bagaimana mereka belajar di sekolah dan bagaimana pembelajaran tersebut di evaluasi.

Reference:

Organisation for Economic Co-operation and Development. 2009. Learning Mathematics for Life: A View Perpective from PISA. OECD Publications: Paris.

About these ads

6 comments on “Memahami Literasi Matematika (A Lesson from PISA)

  1. Arka says:

    tulisannya bagus mas.

    saya jadi berpikir kok rasanya ada dikotomi antara apa yang diajarkan di kelas dengan problem penalaran kuantitatif di kehidupan sehari-hari. Dan rasanya itu emang bener sih. Kalo’ menurut saya, kurikulum matematika (khususnya untuk anak SD-SMP) mestinya nggak boleh menjadikan dikotomi itu exist. Kalo’ emang exist berarti kurikulumnya ada yang keliru.

    • Bustang Buhari says:

      Terima kasih mas. Semoga blog ini bermanfaat buat mas dan semua yang mengunjungi dan membacanya.
      hmm, apa yang mas bilang mungkin ada benarnya. Tapi, khusus tentang PISA ini, ujian atau tes yang diberikan memang diluar dari kurikulum yang ada.
      Klo menurut sy mas, untuk mengatasi dikotomi yang mas maksudkan, pengajaran matematika di sekolah (khususnya SD dan SMP) sebaiknya dan seharusnya mengadaptasi dan menggunakan pendekatan RME atau PMRI. Dengan mengacu pada pendekatan ini, guru dapat memulai pembelajaran matematika di kelas dengan menggunakan konteks (klo bisa konteks lokal) atau permasalahan yang biasa di hadapi siswa di kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya dalam mengajarkan pengukuran panjang, guru dapat menggunakan ‘aktivitas mengukur badan’ sebagai starting point pembelajaran. Alat ukurnya mulai dari informal seperti manik-manik yang dirangkai berwarna warni sampai pengukuruan formal dengan menggunakan meteran atau penggaris panjang. Dengan cara seperti ini, siswa akan aktif dan merasakan kegunaan matematika dalam kehidupan mereka. Mereka akan merasakan bahwa belajar matematika itu menyenangkan. Memang kurikulum kita belum bagus, tapi dengan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran, saya kira masalah dikotomi tersebut dapat diatasi. Semoga mengispirasi, mas.
      Maju terus pendidikan matematika Indonesia.

  2. Sri Wahyu Ningsih says:

    aslmkm artikel’y bagus…..
    saya lagi dalam nyusun skripsi tentang kemampuan literasi matematika nih sekarang,,,jd bisa membantu bgt artikel’y….

    klo boleh tw,,,referensi’y “Organisation for Economic Co-operation and Development. 2009. Learning Mathematics for Life: A View Perpective from PISA. OECD Publications: Paris.” apa kamu pnya???
    coz saya lg bingung cari referenwat literasi mtk sendiri…
    tolong yah…..

  3. rifa says:

    trimaksh mas sangat bermanfaat sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s