Mathematics is a Religion?

Pernahkah anda mendengar seseorang (mungkin dosen matematika anda, klo anda mahasiswa matematika) mengatakan bahwa matematika itu ternyata sebuah agama. Lho kok bisa? Maksudnya pak? Nah, pernyataan seperti itu yang saya dengar dari salah seorang dosenku di Universitas Sriwijaya. Beliau mengatakan bahwa klo kita mau merunut dan merenungkan ternyata matematika itu sebuah agama. Coba kita perhatikan gambar di bawah ini:

 

Jika kita merenungkan, matematika memang sebuah “agama”. Ada beberapa alasan kuat dan realistis mengapa seperti itu. Pertama, matematika bertumpu pada aksioma atau postulat yang kebenarannya tidak dapat kita pertanyakan lagi atau dengan kata lain kebenarannya bersifat mutlak (wajib kita terima). Misalnya aksioma yang dibangung oleh Euclid dalam bukunya yang sangat terkenal Elements dan menjadi bahan pelajaran geometri di sekolah-sekolah hingga saat ini yakni dia mengasumsikan bahwa kita dapat menggambar sebuah segmen garis lurus diantara dua buah titik, memperpanjang segmen garis tersebut sampai tak berhingga dan kita dapat menggambar sebuah lingkaran dengan sebuah titik pusat dan jari-jari yang diketahui. Aksioma tersebut menjadi dasar bagi pengembangan geometri (yang kemudian disebut geometri Euclid) hingga membentuk teorema-teorema, lemma definisi hingga muncul berbagai cabang ilmu geometri yang baru seperti fractal.

Kedua, matematika adalah ilmu yang pada hakikatnya abstrak. Banyak hal dalam ilmu yang menurut orang adalah ratu dari semua ilmu ini, tidak dapat kita inderai. Bahkan banyak simbol-simbol  yang mewakili sesuatu yang tidak real. Misalnya bilangan (. . ., -2, -1, 0, 1, 2, . . .) Tidak ada seorangpun di dunia ini yang pernah melihat bilangan-bilangan tersebut. Bahkan, pada saat siswa, anak, saudara atau mungkin tetangga anda menanyakan mengapa angka satu di simbolkan dengan 1, mengapa bukan 2 atau 5? Mengapa 1 + 1 = 2? Hal ini dapat anda temukan penjelasannya dalam filsafat matematika. Salah satu tulisan yang menarik yang dapat kita baca adalah tulisan Tuvshe Bold berjudul Concept of Mathematical Concepts.

Ketiga, Ada banyak cara untuk membuktikan kebenaran dalam matematika. Beberapa diantaranya bahkan sulit diterima khususnya bagi yang bukan matematikawan. Misalnya ketika sebuah pernyataan matematika yang hanya bisa dibuktikan dengan menggunakan pembuktian kontradiksi yakni dengan mengandaikan bahwa negasi dari pernyataan tersebut bernilai benar kemudian melalui beberapa tahapan, terbukti bahwa negasi dari pernyataan tersebut ternyata salah. Maka disimpulkan bahwa pernyataan tersebut bernilai benar. Mengapa seperti itu? Apa yang menjamin kita bahwa jika negasinya bernilai salah, maka pernyataan tersebut bernilai benar? Itulah matematika, jika tidak benar maka pasti salah. Tidak mungkin sebuah pernyataan dan negasinya kedua-duanya benar atau kedua-duanya salah (the law of excluded-middle).

Beberapa alasan diatas menjadi bukti bahwa matematika adalah sebuah agama. Anda mungkin setuju atau mungkin juga tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Namun, pernyataan Galileo Galilei bahwa Mathematics is the language with which God has written the universe cukup menjadi bukti bahwa kita tidak dapat memahami alam semesta tanpa pengetahuan matematika.

2 comments on “Mathematics is a Religion?

  1. hafidz says:

    artikel’a bagus-bagus….
    sangat membuka wawasan tentang matematika..
    yang slama ini dipandang monoton..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s