Pipet, Kartu Berangka dan Pembelajaran Nilai Tempat

Laporan ini memaparkan tentang proses belajar mengajar Nilai Tempat pada kelas II di SD Negeri 98 Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia dengan menggunakan pendekatan Realisitic Mathematics Education (RME). Pembelajaran ini melibatkan 32 orang siswa dalam dua hari.

Pada hari pertama, saya bertindak sebagai guru di kelas. Proses belajar mengajar berlangsung selama 60 menit yang dibantu oleh Ibu Maryani dan Novita Sari untuk mendokumentasikan dan membantu siswa untuk mengikuti pembelajaran. Pada pertemuan ini, kami memperkenalkan konsep Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) kepada siswa dengan memberikan masalah realistik.

Pada observasi ini, Ibu Mariani bertindak sebagai guru di kelas. Aktivitas pembelajaran berlangsung selama kurang lebih 60 menit yang dibantu oleh Novita Sari dan saya untuk mendokumentasikan dan membantu siswa untuk mengikuti pembelajaran. Pada pertemuan ini, kami memperkenalkan konsep nilai tempat kepada siswa melalui cerita berjudul “Ibu Ros dan Pempek”.

Continue reading

Advertisements

“Matematika atau Matematisasi”

Merupakan sebuah kebenaran bahwa tujuan pengajaran adalah untuk membantu murid belajar. Namun, proses belajar dan mengajar pada masa lampau lebih sering dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Mengajar adalah apa yang dilakukan oleh guru. Ia dianggap sebagai orang yang mengetahui mata pelajaran yang diajarkannya dan harus mampu menjelaskannya dengan baik. Sedangkan murid diposisikan sebagai orang yang belajar. Mereka diharapkan untuk belajar dengan keras, mempraktekkan, dan mendengarkan agar dapat memahami mata pelajaran yang mereka pelajari. Jika mereka tidak belajar, itu adalah kesalahan mereka. Mereka mempunyai kesulitan dalam belajar, membutuhkan remedial, khawatir yang berlebihan, dan pemalas. Bahkan ketika kita berbicara tentang perkembangan, biasanya menyangkut tentang mengevaluasi murid untuk melihat apakah dari segi perkembangan, mereka siap menerima pembelajaran dari guru.

Menariknya, dalam beberapa bahasa, belajar dan mengajar merupakan bahasa yang sama. Dalam Bahasa Belanda misalnya, perbedaan antara belajar dan mengajar hanyalah pada kata depannya. Kata kerjanya sama. Leren aan berarti mengajar; leren van berarti belajar. Ketika belajar dan mengajar begitu dekat, maka akan terintegrasi dalam kerangka pembelajaran: mengajar akan dilihat sebagai sesuatu yang begitu dekat dengan belajar, bukan hanya dalam bahasa dan pikiran, tetapi juga dalam tindakan. Jika proses belajar tidak terjadi, maka tidak akan ada proses mengajar. Tindakan belajar dan mengajar adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Continue reading